Makna Pendidikan
Pagi itu kira-kira jam 10.30 pagi, di sebuah SDN yang terletak di lereng gunung Baluran, bu guru Yeni serius menerangkan pelajaran. Sembari menulis teori-teori di papan, sesekali dia menoleh memperhatikan siswanya yang sebagian pada kusut. Dilihatnya si Budi yang manggut-manggut dengan sinar mata yang cerah sementara di sebelahnya Andi juga manggut-manggut tanda ngantuk, sedangkan di belakangnya Lilah menatap papan tulis dengan pandangan kosong.
Beberapa saat kemudian, bel yang ditunggu-tunggu berbunyi, siswa kelas sebelah sudah semburat keluar kelas. Sembari mengemasi buku-bukunya, Lilah mendekati Budi menanyakan tentang apa yang baru saja dijelaskan guru. Dengan senyum ramah Budi menerangkan kembali dengan ”bahasa” yang lebih bisa dipahami keduanya, Lilahpun tersenyum”oh.. begitu..” ujarnya dengan mata bersinar, dan Lilah mengerti betapa pentingnya apa yang baru saja dijelaskan itu.
Fenomena di atas kerap terjadi di sekitar kita. Namun terlepas dari cerita di atas, kita bisa memahami tentang makna Pendidikan. Pendidikan merupakan sesuatu yang melekat pada manusia bahkan pendidikan telah ada sebelum manusia itu sendiri ada.
Pendidikan adalah salah satu yang membedakan antar manusia dan hewan selain juga kemampuan berbahasa yang tidak ada pada hewan. Bagaimana dengan hewan yang memiliki kemampuan tertentu misalnya anjing yang bisa mengendus bau bom, atau lumba-lumba yang bisa mengangkat boneka dan sebagainya? Itu bukan merupakan proses pendidikan sebagaimana konsep pendidikan bagi manusia namun lebih merupakan semacam hasil dari proses latihan atau pembiasaan.
Makna pendidikan secara harfiah sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik.
Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Selain itu masih banyak lagi pakar yang menjelaskan tentang pendidikan di lihat dari sudut pandang yang bermacam-macam
Secara lebih spesifik lagi, di Indonesia level pendidikan formal dibagi ke dalam beberapa tahap yang dimulai dari tahap pendidikan dasar. Dari bermacam literatur, kita bisa memahami bahwa Pendidikan dasar terdiri dari dua kata yaitu “pendidikan” dan “dasar”. Menurut pengertian Yunani pendidikan adalah “Pedagogik” yaitu ilmu menuntun anak. Bangsa Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yaitu : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian anak atau seseorang.
Pendidikan Dasar lebih merupakan suatu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran (memberikan pemahaman) dan latihan agar anak memiliki pengetahuan, pemahaman dan kemampuan yang berguna bagi dirinya dan orang lain di sekitarnya serta bertujuan untuk menyiapkan seorang anak agar memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan berikutnya.
Tahap Perkembangan Manusia
Menurut teori belajar konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak dianggap sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.
Kemampuan intelektual terdiri dari keterampilan, tingkah laku dan kemampuan adaptasi untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang baru, berfikir abstrak dan mengambil makna dari pengalaman-pengalaman. Pengukuran intlektual ini dapat dilihat jika seseorang memecahkan masalah, dan cara respon seseorang pada berbagai situasi.
Anak pada usia 1 tahun, mengalami banyak perkembangan, perkembangan ini seperti dimulai dari memahami maksud rangsangan fisik yang dialami baik berupa sentuhan, belai dan sebagainya. Mengungkapkan keinginannya dengan jalan menangis dan sebagainya. Pada fase berikutnya anak mulai mengoptimalkan kemampuan gerak fisik yang dimilikinya dan sebagainya. Pada usia ini pula, perkembangan otak sangat pesat, ia dapat membuat keputusan dan menerima keputusan orang lain yang memberi rasa aman baginya. Ia juga mulai mengoptimalkan fungsi intelektualnya. Kemampuan intlektual lainnya memahami kegiatan rutin di lingkungannya. Misalnya bunyi-bunyi yang ia tangkap sewaktu menyiapkan makanannya. Berarti dengan bunyi ini sebentar lagi ia akan di beri makan, ia dengan sabar menunggu dan tidak menangis.
Menurut beberapa teori, perkembangan intelektual tidak dapat terjadi sebelum pola pikir terbentuk, dibutuhkan stimulasi sensori dan motoris sebelum anak “diberikan” pengetahuan. Sedangkan pengetahuan dibangun dari pengalaman sehari-hari baik itu bergerak, meraba, bersuara, melihat dan merasa. Kemudian anak membentuk pemahaman dalam pikirannya berupa imajinasi, imajinasi terbentuk bila anak dikenalkan atau diperlihatkan gambar tentang suatu obyek tersebut. Mengenai tahap-tahap perkembangan, Piaget membaginya sebagai berikut :
Tahap I. Sensorimotorik (lahir - 2 tahun). Anak menggunakan sistem penginderaan, sistem motorik dan benda-benda untuk mengenal lingkungannya. Bayi tidak hanya menerima rangsangan namun juga memberikan jawaban misalnya dengan menangis.
Tahap II. Pre Operasional ( 2-7 tahun ). Sensori motorik menjadi pre-operasional. Pada pre-operasional anak mampu menggunakan simbol-simbol dengan menggunakan kata-kata dan mempelajari teknik-teknik baru yang menarik perhatianya, mengingat masa lalu sekarang dan yang akan terjadi segera.
Tahap III. Kongkrit Operasional ( 7-11 tahun ). Dapat berpikir secara logis terarah. mengelompokan fakta-fakta, dan mampu berfikir dari sudut pandang orang lain, berpikir secara abstrak, dan mengatasi persoalan secara nyata dan sistematis. Contoh: berhitung dengan pola yang diubah-ubah.
Tahap IV. Format Operation (11-dewasa). Mengembangkan kemampuan kognitif untuk berpikir abstrak dan hipotesis. Memikirkan hal-hal apa yang akan atau mungkin terjadi. Perkembangan lain pada masa remaja ialah kemampuan untuk berpikir sistematis dan memecahkan suatu persoalan.
Relasi Manusia dan Pendidikan
Dengan memahami tahap-tahap perkembangan manusia sebagaimana di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa manusia memang tidak akan pernah terlepas dari pendidikan. Manusia dilahirkan tidak dibekali pengetahuan dan keahlian tertentu kecuali hanya insting berpikir dan berkeinginan serta mempertahankan hidup (insting dasar) selain itu, tentang bagaimana ia harus berinteraksi, bagaimana dia berbuat sesuatu atau bagaimana ia mewujudkan gagasannya, maka manusia perlu pendidikan.
Proses pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas dengan tumpukan buku atau juga di rumah dengan multimedia, komputer dan koneksi internet. Namun proses pendidikan juga bisa berlangsung di jalan, di lingkungan sehari-hari dan sebagainya yang bertujuan untuk memahami bagaimana bertindak dalam aspek sosial, ataupun juga membina hubungan sosial dengan kelompoknya dan sebagainya.
Manusia tidak pernah terlepas dari pendidikan di manapun dia berada tanpa batas waktu dan ruang. Karenanya, untuk menyiapkan generasi kita ke depan, maka tuntutan terhadap pendidikan juga menjadi sesuatu yang sangat signifikan tidak lagi menjadi hal yang dianggap sepele. Sebagaimana sejarah dari beberapa bangsa yang maju pada beberapa dekade yang lalu, misalnya Jepang yang setelah mengalami kekalahan dari Amerika pada perang dunia ke dua, langsung banting setir dari militer ke peningkatan pendidikan dan ekonomi. Dan begitu pula seharusnya dengan bangsa Indonesia.
Pada akhirnya, belajar atau pendidikan merupakan sesuatu yang urgen bagi kita (atau lingkungan kita) agar kita semakin memahami eksistensi diri sebagai manusia, agar sikap, perilaku dan pola pikir kita benar-benar terbangun menjadi manusia seutuhnya.
Rabu, 30 Januari 2008
catatan kecil senin pagi
blog ini aku bikin coba-coba sebagai sarana menumpahkan keluh kesahku
aku pengen berbagi keluhan di bidang pendidikan khususnya pendidikan di indonesia..
aku pengen berbagi keluhan di bidang pendidikan khususnya pendidikan di indonesia..
Langganan:
Postingan (Atom)
